
Setiap tanggal 21 April Indonesia merayakan hari spesial yaitu Kartini. Meskipun tidak dibandrol dengan warna merah, hari ini mengajak perempuan untuk refleksi. Gerakan nyata melalui tulisan yang mendobrak pikir pada jamannya.
Pemikiran-pemikiran dahsyat Kartini, berhasil diungkap melalui surat-surat Kartini yang dipublikasikan dalam buku berjudul sama. Beliau melakukan korespondensi dengan kawannya yang berada di Belanda. Setelah sekian lama berdiam diri menuruti orang tuanya, budaya dan tradisi ternyata Kartini memberontak dalam otak.
Kemudian hari ini ketika menulis, didepan saya banyak konde berkeliaran. Para perempuan berkebaya, jalan dengan susah, make up habis-habisan. Tulisan mengenai emansipasi, feminisme, bermunculan di milis-milis. Saya capai mendengarnya. Buah-buah ide yang muncul beragam sama, penuh kemarahan, ketidak puasan di dasarkan pada kata emansipasi.
Jadi sebenarnya apa sih emansipasi? Istilah tersebut digulirkan ketika menjelaskan sejumlah usaha mendapatkan hak politik maupun persamaan derajat, bagi kelompok yang tidak diberi hal secara spesifik. Artinya ketika saya sebagai perempuan tidak diberi hak, saya bisa menuntut emansipasi.
Pertanyaannya adalah apakah kamu, saya dan perempuan lain siap untuk itu? Ataukah kita telah mencapai sepakat akan definisinya? Tentang sanggul kah? Kebayakah?
Pernahkah kita sadari, kata-kata emansipasi terlontar namun kita tidak bisa mengganti ban mobil sendiri. Mengernyitkan dahi kala menghadapi suami mengurus anak, dan istri bekerja di luar rumah.
Jujur, saya, kopi dan rokok masih suka seperti itu. Kami bergosip tertawa dalam kesenangan perempuan. Bangga untuk dipuja dan dibukakan pintu mobil, menerima barang mewah dari segepok lelaki yang datang, Kami bangga dengan keistimewaan yang kami punya untuk menjadi BITCH (Babe Is Totally Control Herself)).. Memang drama quenn tapi we know excatcly what we want.
Kata-kata itu menurut kami adalah emansipasi yang sebenarnya. Yaitu bagaimana kami bisa menerima diri sendiri dengan gembira.
Hari ini kami ke kantor dengan biasa. Bangun siang, sedikit telat sehingga tidak ada kesempatan berdandan ala pesta kawinan ke kantor. Kami tidak berkoar-koar mendengungkan persamaan hak yang nantinya tidak berujung. Kami membuat kompromi dengan keadilan perempuan.
Tidak semuanya kelemahan berujung kekalahan. Dan kelebihan adalah kebenaran. Namun kombinasi keduanya mampu menghasilkan kesempurnaan.
Kartini adalah contoh nyata ”old past BITCH”. Kami bertiga terpana melihat hasilnya membatik dipamerkan pada museum nasional. Sementara buah pikirannya menghasilkan sebuah sekolah untuk perempuan di tahun 1903. Dan she is totally have control of her self, and know what she want. Salute for her.
“Sometimes you have to be a bitch to get things done.-Madonna-” So do Us !
Written by~seorang teman
Life is a beautiful enemy
The Old Past BITCH, Kartini
Posted by oursmalltalk at 00.33
Labels: social life
you cannot pass

Ok BITCH,
Hari ini hari yang susah buat di terangkan. Kenapa? Karena tiba-tiba tangan saya gatel pengen nulis hal yang ga penting seperti ini.
Diantara teman-teman yang lain saya adalah raja jalanan. Lebih tepat kalau di sebut tukang langgar aturan. Lampu merah, di depan terabas saja, maklum merah artinya berani. Ada dilarang belok di lewatin ajah. Bahkan razia polisi justru saya samperin karena bakalan ada cerita baru.
Masalah nanti denda, tilang itu cuman konsekuensi seru yang bisa diolah jadi bahan makian selanjutnya. Tentu saja tidak mengesampingkan argumentasi mulai yang manis, alot, kenyal, asem, pahit dan terakhir hajar!
But eniwei Bitch,
Saya tiba terhenyak bahwa kegiatan yang saya lakukan ternyata bisa membuat kita mengeluarkan uang minmal seharga satu celana dalam la senza bahkan lebih.
OK check this out!
Tak punya SIM? Diatur Pasal 281 jo Pasal 77 (1), denda Rp 1 juta.
Berkegiatan lain saat mengemudi, atau dipengaruhi keadaan yang mengurangi konsentrasi? Diatur Pasal 283 jo Pasal 106 (1), denda Rp 750 ribu
Tak mematuhi sinyal peringatan kereta api, menerobos palang di persimpangan rel? Aturan Pasal 296 jo pasal 114a, denda Rp 750 ribu
Melanggar rambu/marka? Diatur Pasal 287 (1) jo psl 106 (4a) dan Psl 106 (4b), denda Rp 500 ribu.
STNK tak sah? Diatur Pasal 288 (1) jo Pasal 106 (5a), denda Rp 500 ribu.
Tanda nomor tak sah? Diatur Pasal 280 jo Pasal 68 (1), denda Rp 500 ribu.
Melanggar batas kecepatan maksimum atau minimum? Diatur Pasal 287 (5) jo Pasal 106 (4g) atau Pasal 115a, denda Rp 500 ribu.
Asesori membahayakan seperti lampu silau, bumper tanduk? Diatur Pasal 279 jo Pasal 58, denda Rp 500 ribu.
Tak mengutamakan pejalan kaki atau pesepeda? Diatur Pasal 284 jo Pasal 106 (2), denda Rp 500 ribu.
Berhenti darurat, tapi tak memasang segitiga pengaman atau isyarat lain? Diatur Pasal 298 jo Pasal 121 (1), denda Rp 500 ribu.
Ada juga denda Rp 250 ribu per pelanggaran:
- Tak membawa SIM
- Tak memakai sabuk keselamatan
- Tak memakai helm
- Malam hari, lampu utama tak menyala
- Mengganggu fungsi rambu, marka, alat pengaman pengguna jalan (berlaku untuk setiap orang)
- Tak mematuhi perintah petugas untuk berhenti, jalan terus, melaju cepat, melambat, atau mengalihkan arus
- Melanggar tata cara penggandengan kendaraan
- Pindah lajur tanpa isyarat
- Membelok atau berbalik arah tanpa isyarat
- Tak memberi prioritas pada kendaraan tertentu, termasuk yang dikawal petugas Polri
sumber: TMC Polda Metro Jaya
So hows? Tertantang mempertaruhkan hasil keringat untuk pelanggaran lalu lintas? I think, that good idea sumtimes.
Brummmmmmmmmmmmm……ciiiitttt bruak!
Written by ~seorang teman
Posted by oursmalltalk at 22.38
Labels: social life
Satu April, hamil? No Way!

Pernahkah Anda berada pada sebuah posisi yang menegangkan? Tiba-tiba, issue hamil mencuat ke permukaan. Dan itu terjadi pada sahabat sendiri yang notabene belum menikah.
Ah its OK, kita tidak akan bilang hal tersebut haram. Lets say, babies is an angel yang tidak sengaja jatuh dalam dunia ”seru” kita.
But, saya pribadi belum bisa menjawab apa yang harus dilakukan untuk mengesampingkan karir. Atau taktik apa untuk tetap membuat dompet pengangum-pengagum tetap lancar.
Eniwei berita menggemparkan itu terjadi kemaren
10.25 1 april 2010
Subject 1 : gawat gawat! Ternyata aku positif
Seorang teman : siapa bapaknya
Subject 1 : ngga tahu, masih bingung! Kamu temenin aku ke dokter ya plis
Seorang teman : kamu yakin udah beli test pack?
Subject 1 : YUP
Seorang teman : Ok remind me ya ntar sore
Selang beberapa saat
11.30
Subject 2 : mmm aku mau ngomong rahasia
Seorang teman : kenapa say, ngomong ajah gih
Subject 2 : kayaknya kamu bakal punya ponakan
Seorang teman : wew darn! Kamu gila ya, jadi gemana perasaanmu. Udah ok kan semuanya.
Subject 2 : kamu temenin aku ke dokter ya plisssss
Seorang teman : ah aku ada janji, besok ajah kali ya…
Subject 2 : (mulai meraung-raung)
Seorang teman : iyah iyah
Dalam waktu satu jam saya sudah ada dua janjian membawa dua calon ibu ke dokter kandungan. Di hari yang benar mengaharukan. 
15.00
Secangkir kopi : GAWAT! Gw positif beneran
Seorang Teman : HAH! LU GILA YA, GA PAKE PENGAMAN!
Sebatang rokok : sabar fren sabar fren.
Secangkir kopi : temenin ke dokter, gw sayang ama di dedek, ini kan anak kalian juga (melas)
Sebatang rokok : iya gpp ntar kita barengin (diputusin sendiri)
Seorang teman : (mendelik!)
Ok then, sekarang sahabat sendiri yang mengalami… Ah kerja tidak konsen, bingung bahagia ngga jelas. Dan tolong diberi garis bawah 3 orang dihari yang sama.
Akhirnya saya membuat appointment di sebuah rumah sakit bersalin terkenal daerah Meteng Jakarta. Ketiga-tiganya saya ajak ke sana, tapi nyetir sendiri-sendir. Saya ngga mau dengar alasan ibu hamil dilarang nyetir. Saya juga tidak bisa bersikap kurang adil terhadap semuanya. Mencoba mengerti kalau fase itu susah dan mereka bimbang. Tentu saja menimbulkan efek traumatik jangka panjang. Seperti saya yang trauma harus jadi teman mereka ARGHHH!
Saya sampai sebelum mereka, menunggu sambil membaca majalah. Ibu-ibu diantar suami bersliweran. Anak-anak kecil ngelus perut maminya. Ada juga tampak pasangan baru bahagia. Tidak lupa sebagai tambahan harus ada, muka jutek wanita-wanita terlihat kelelahan karena hamil.
OHHH.. saya diam saya tidak tahu harus berbuat apa. Membayangkan kehidupan mereka, merawat si kecil, berantem dengan suami.
Dan ketiga orang itu belum datang.
Dan…
Dan…
Saya tetap sendirian sudah satu jam lebih. Ibu disebelah membaca keresahan saya, bertanya kenapa tidak diantar suami. Saya jawab menunggu teman.
”Tidak usah ditutupi, memang pergaulan jaman sekarang bebas. Kalau mau menggugurkan jangan disini ada kok saya obatnya,” lanjutnya tanpa babibu.
HAH!
HAH!
Sabar-sabar
Saya marah, mencari blackberry. Yang tentu saja jarang dipakai, entah dimana rimbanya. Perlu diketahui telepon konvensional lebih mudah untuk dimanfaatkan.Tiba-tiba mata saya tertuju pada amplop berwarna jambu ditengah-tengah novel.
To Teman:
Waktu kamu baca ini, kami sudah bisa membayangkan mukamu yang bĂȘte. Mengatur schedule dari pagi sampai dimarahin Pak Mister (boss). Tapi kami tahu kamu teman yang baik. Dan kabar baiknya adalah kami tidak hamil dan kamu menunggu di Rumah sakit. Selamat ya!
Ps: Happy April Mop
warm regards
Ibu Hamil
ARGH! Saya benci Satu April!
Hahahahahaha!
written by~seorang teman
Posted by oursmalltalk at 21.43
Labels: chit chat, social life
Hadiah buat Tante

Kopi : mmmm Maminya Dia mau ulang tahun. Dan terpaksa deh kasih hadiah.Ok gals, ada saran?
Teman : kotak kecil manis berpita isinya test pack bergaris positif. Kemudian bilang sama dia ”Tante ini baru DPnya nanti hasil bisa dilihat 9 bulan lagi. Pasti tante suka,”
Rokok : *ngakak ngguling-ngguling* huahhakakakakkakakakakaak
written by ~seorang teman
Posted by oursmalltalk at 00.56
Labels: chit chat, social life
Teman vs Anjing
Cuman anjing yang buatku paling kapabel dalam mengapresiasi arti kata setia. Terhadap pasangannya saja manusia sangat sering tidak setia, apalagi sama seseorang yang berlabel teman?
Itu, si Ria (jelas-jelas nama bohongan), temen kuliah dulu. Aih, dia ini ya, dateng cuman kalau ada maunya aja.
“Temen sekamarku itu loh, rese banget. (bla…bla…bla…)”
“Hiks….kenapa dia berbuat seperti itu? Kan aku nggak pernah jahat sama dia. (bla…bla…bla…)”
“Aku nggak mau menikah seumur idup. Kalau bisa aku mau punya anak tanpa suami aja.” *PREEEEETTTT
“Bos di kantorku itu bener-bener bego deh!! (bla…bla…bla…)”
“Aku mau ngenalin kamu sama xxx. (bla…bla…bla…)”
Dan bla…bla…bla…blah!
Semua ocehan ini dikicaukan si Ria saat dia lagi jomblo, or paling nggak saat dia lagi dideketin cowok yang buntut-buntutnya dianggap nggak oke. Dan dia juga selalu nyariin gw untuk sekedar menyampah tentang cowok-cowok “nggak oke” itu.
Sudah 8 bulan terakhir ini si Ria punya pacar. Tebak apa yang terjadi? Pfffttt….ngilang dia, bener-bener ilang nggak ada bekasnya. Aku gak pernah lagi melihat batang idungnya, mendengar kabarnya, apalagi mendengarnya menanyakan kabarku.
Gitu ngakunya temen baik, sahabat. Eh, waktu udah ada laki-laki yang bisa dimanfaatin, temennya ditinggal gitu aja. Bah!
Sebenernya aku seneng-seneng aja si Ria punya pacar. Paling nggak, ada orang lain yang bisa dia sampahin. Aku juga udah mulai empet denger curhatannya yang makin lama kok ya terdengar itu-itu aja. Ndak kreatip.
Cuman, bukan ngilang kayak gini dong caranya kalau udah punya pacar. Harusnya kan kita masih bisa jalan-jalan senang bersama. Paling nggak, pacarnya kan bisa dimanfaatin untuk bertanggung jawab terhadap kesenangan kami. ;p
Ah sial, jadi keinget sama anjingku. Jelas dia lebih baik dari si Ria ini. Hahahahaha....
~written by sebatangrokok
Posted by oursmalltalk at 23.18
Labels: bitch, social life
Mitos VS Keajaiban Melati
Bunga Melati, Bunga Melati, bunga mungil nan wangi pelancar kawin. Hahahaha
Saya terbahak ketika mendengar kalimat itu muncul dari mulut tetangga, teman kuliah, dan banyak wanita lainnya.
Biasanya cerita tersebut berlanjut dengan bisik-bisik.
”Caranya adalah, harus mencuri pelan-pelan dari hiasan kepala sang pengantin,”
Percaya ngga percaya saya juga tidak bisa berkata. Pada kenyataannya saya belum pernah menjadi penjahat melati. Namun sebagai seorang perempuan keinginan menjadi ratu sehari memang suka terlintas. Sayangnya pada waktu itu saya abaikan karena pasangan saja belum ada.
Hingga sampailah saya pada sebuah dilema. Sahabat terbaik kami menikah, setelah menjalin hubungan kurang lebih 8 tahun. Yang perempuan (teman kami) tetap berkarier sebagai psikolog. Yang pria bekerja sebagai pelaut menyusuri benua dengan gaji EURO.
-wew-
Sayapun jadi dag dig dug, ah takut semakin jauh dari yang disebut pernikahan. Meskipun kadang kalau dipikir masuk sangkar emas lebih tidak enak daripada bebas. Namun apa boleh buat lingkungan mulai bertanya, orang tua kembali cerewet dan
ARGHHHHH!
SAYA HARUS MENCURI MELATI ITU!
Kami bertiga berkasak kusuk, dengan berbagai kemungkinan. Mulai dari kalau kondenya lepas jika ditarik keterlaluan. Mencari teori yang relevan kenapa harus mencuri. Membaca kitab suci agar tidak dosa. Menyiapkan mata-mata, pengalih perhatian dan trik menyelipkan bunga ke tas.
Dan setelah menenggak sedikit es puter kita telah siap. Gayanya tetap santai, tidak mengendap-endap. Setiap langkah dihitung maksimal, agar tetap gaya sampai di pelaminan.
Sebatang Rokok melancarkan aksi cipika cipiki, Seorang Teman mulai minta foto bersama dengan cerewetnya. Dan saya sengaja dekat-dekat
Menarik-narik (susah)
Menarik-narik-narik (susah)
Mencoba menarik lagi agak kencang
Dan ….saudara-saudara
Brollll broll JEBOL rangkaian melati itu lepas putus
Saya tersenyum, sahabat kami yang menikah tidak marah dan cekikikan Seorang Teman dan Sebatang Rokok tertawa tidak ada habisnya. Dan jangan lupa muka saya merah padam.
Hari itu kami bukan hanya menjadi pencuri melati, tapi penjambret melati pengantin.
Sudah dua tahun semenjak kejadian itu. Melatinya masih saya simpan. Bagaimana juga kejadian tersebut adalah sejarah.
Sahabat kami sekarang sudah punya momongan berusia satu tahun bulan lalu. Sebatang rokok terkadang punya pasangan terkadang tidak, lebih doyan ngoceh dengan kami.
Seorang Teman masih heboh berjalan-jalan kemana dia suka. Sebagian koleksinya ada di berbagai pulau.
Sedangkan saya, hari ini memandangi foto seorang pria yang good looking. And u know what ”He is my boy friend” (yang terkadang menyebalkan khas pria-pria, huh!)
Keajaiban melati kah? Ga tahu saya belum bisa menjawab sampai ada pertanyaan
”Would u marry me?”
written by secangkir kopi ~life is a beautiful enemy`
Posted by oursmalltalk at 00.52
Labels: bitch, fun, social life
B! ALERT: Kami Tidak Mungkin Direncanakan Jadi Istri??

Wanita yang pas untuk teman pesta, clubbing, bergadang sampai pagi, chitchat yang snob, merokok n kadang mabuk – tidak mungkin direncanakan jadi istri
WTF?? Siapa orang tolol yang melontarkan judgement seperti ini?
Mario Teguh! Hah!
Aku memang nggak pernah percaya sama yang namanya motivator. For me, they are the true hypocrite. Seseorang yang tak hidup di dunia nyata.
Lemme ask you these questions :
Apa sih definisi istri dalam benak Anda? Seorang yang bertugas melayani Anda? Yang harus terus menjaga anak-anak selagi Anda entah ada dimana sedang melakukan apa? Kami perempuan hanya Anda jadikan sebagai objek semata, bukan?
Anda beranggapan bahwa laki-laki memiliki nilai lebih dari seorang perempuan? Sehingga Anda tidak menyinggung tentang laki-laki yang demen clubbing, merokok dan mabuk-mabukan? Jika yang melakukan itu laki-laki, mereka dimaafkan? Mereka tetap dapat direncanakan menjadi seorang suami? Is that what you are trying to say?
Dan jika aku merokok, aku dugem dan terkadang aku suka minum, lantas Anda berpendapat aku tidak pantas menjadi seorang istri? Oh come on, open your sticky eyes! Tahu tidak, seorang perempuan tanpa rokok yang tak doyan mabuk pun bukan jaminan bisa menjadi sosok istri yang baik. Baik dan buruk tidak digambarkan hanya dengan sebatang rokok, sebotol liquor atau sedikit goyangan seksi di dance floor kok.
Kenapa Anda tidak mempermasalahkan saja para lelaki yang telah memiliki istri idaman, namun masih saja datang ke panti pijat untuk mendapatkan service ekstra? Atau jangan-jangan Anda tak berani menguak tabu pribadi Anda sendiri ya? Ih, memang begitulah kehidupan munafik sejati. Berbusa-busa menceramahi orang lain, sedangkan borok menganga lebar di dalam diri. Yuck!
Maybe this is breaking news for you, but we are much more than that. Kami perempuan lebih dari sekedar konco wingking yang bisa Anda nilai baik atau buruk dari kualitas kami memasak, atau membersihkan rumah, atau menjaga anak-anak. Kami bukan lagi second-class citizen loh, yang bisa Anda peram terus di dunia domestik.
Perempuan kini memiliki kebebasan untuk berkarya, untuk bekerja, dan untuk bersenang-senang. Kami punya hak yang sama dengan Anda untuk menikmati hidup, untuk merokok (meski kami tahu itu merusak tubuh kami, seperti para lelaki lain juga tahu bahwa itu merusak tubuh mereka), untuk dugem, untuk meliuk gembira, untuk menyisip minuman yang membuat kepala kami sedikit enteng.
Dan tenang, kami ini multitasking kok. Kami bisa saja merokok sambil memasak. Dan masakan kami tetap enak. Kami bisa saja menyesap sedikit wine sambil menyuruh suami kami untuk menyapu dan mengepel rumah. Kami juga bisa menjadi kawan chitchat yang intelek dan menyenangkan, sehingga suami kami tak memiliki alasan mencari kawan perempuan untuk diajak bicara cerdas. Dan jangan ditanya, kami juga mampu menjadi kawan (ataupun lawan) yang hebat di ranjang, sehingga suami kami tak perlu mencari variasi lain.
Anda masih bilang bahwa kami tidak layak menjadi seorang istri?
~written by sebatangrokok
Posted by oursmalltalk at 03.41
Labels: bitch, hypocrite, social life
L on the forehead = LEBAY

Percakapan di pagi hari antara saya dan seorang teman tentang Alya (bukan nama sebenarnya).
Alya adalah teman SMA kami. Ukurannya standard lah, popular juga ga tapi bukan termasuk di”bully” ama lainnya. Masalah body (this is the most important thing) ga minus ga plus. Jadi penekanannya benar pada kata-kata ”BIASA”. Jangan bilang sombong, boleh kok bandingkan dengan aset fisik saya. Hahaha
Pada suatu saat dia datang tergopoh-gopoh mukanya sadis dengan pandangan ala sinetron.
”Lihat nih, lihat si Bondan nembak aku,” katanya pada kami di tengah kantin dengan suara kencang seperti geledek.
Surat yang dipegangnya langsung jadi barang mainan baru para gadis-gadis. Sambil digilir Alya tidak berhenti berbicara.
”Aku jijik ama dia, tingkahnya bikin enek, emang dia siapa sampe berani buat puisi lagu si Lumba-Lumba jatuh cinta,”
Saya dan teman menaikan satu alis berkali-kali. Berasa aneh. Yang lainnya manggut-manggut entah kegirangan atau pengen nonjok.
Oh come on…
Anggaplah itu masa SMA, masa masih susah membedakan malu dan suka. Masa norma yang pengertiannya belum jelas. Tapi sempat terlintas dalam pikiran kami. Bagaimana kalau keadaannya terbalik. Apa perasaannya.
Life is Unfair! Namun susah sekali membuat itu menjadi adil kalau Alya-Alya bergentayangan. Matanya ditutup tanpa pernah bercermin. Berusaha memposisikan diri sebagai Dewi Sandra tapi sebenernya mirin Jeng Kellin. HAHAHAHAH :D
Saya dan seorang teman bernostalgia. Mengingat setelah provokasinya susah berhasil Alya berlalu santai dengan gaya ”manis-centil -sok-laris”nya itu. Kembali ke kelas kaya ga terjadi apa-apa.
Beberapa minggu kemarin ketika asyik menikmati Froyo si Alya lewat. Dan kami berusaha memanggilnya. Ngobrol-ngobrol sambil ke-asem-an akhirnya tercetus kata-kata wasiat dari Alya.
”Gue belom pernah pacaran lagi sejak putus sama Aldi (pacar SMAnya),”
Saya dan Seorang Teman tetap berlagak pilon sambil mengelus-elus pundaknya. Memaksa untuk tidak tertawa.
HUAHAHHAHAHA
LOSER!
FYI: Bondan (bukan nama sebenarnya) korban cinta monyet tertindas itu kini telah jadi salah satu pengusaha terkenal. Single, Available, Marriage-able.
Sementara si Alya, masih ngeciprit masalah OB kantor nya yang suka curi-curi pandang.
CUIH!
T.R.A.G.I.S
HAHHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHAHA (joget pisang)
Written by: secangkir kopi ~life is a beautiful enemy
Posted by oursmalltalk at 01.51
Labels: bitch, social life
WALL-E (short for Waste Allocation Load Lifter Earth-Class)
Udah nonton Wall-E? Semalam saya dan secangkir kopi (SC) terpaksa menontonnya. Perjalanan menuju bioskop di Galaxy Mall cukup jauh dan kurang menyenangkan. Gara-garanya, kami berdua sepakat untuk olahraga malam alias jalan kaki. Apalagi kita berdua baru aja pulang kerja.
SC : rasanya ini salah jalan deh, kemaren kan nggak ngelewatin tukang sate..
Saya : Udah lah, pasti nyampe!
SC : Pak satpam, mau ke GM lewat mana?
Satpam : Udah kelewat 2 blok, mbak!
Saya : -dhieng- (seribu topan badai, palu godam langsung nancep dikepala, diletakkan dengan indah oleh kuku yang habis di manicure oleh SC) Hahahahaha..., sorry friend!
But its ok! Kita ngerasa nggak rugi nonton film bikinan pixar ini. Wall-E benar-benar mengajarkan budi pekerti yang baik tanpa harus merasa di gurui. Manusia-manusia modern seperti kita, yang kadang ngaku-ngaku keren , nggak berarti ngak memerlukan orang lain, kan? Tangan, kaki, otak memang dibuat untuk membuat bumi menjadi better place for us.
Dan ada lagi, kita berdua jadi ketakutan jangan-jangan semakin modern bumi kita, problem obesitas bakalan menjadi-jadi. Gimana nggak, mau badminton tinggal nyuruh komputer kita menjalankan lewat visual, mau ke mall tinggal naik mobil yang nggak usah jalan kaki, pencet remote... Kapan dong olahraganya? Ups... Salah ngomong yah, barusan ada yang ngambek gara-gara jalan, hahaha.
By the way, lagu soundtracknya enak-enak banget. Bawa tissue sebanyak mungkin, karena Waal E akan membuat kamu ngerasa haru sekaligus ngakak tanpa henti..
wrtten by : seorang teman
edited by : jamu
Posted by oursmalltalk at 03.47
Labels: social life
Exciting Summerfling
Akhirnya jadi juga saya dateng ke rave party nya Blowfish, summerfling, di Juanda former airport, 2 Agustus kemaren.
Saya sampai sana tepat pukul 10 malem, bareng tiga orang temen dan adik cowok. Sekitar 1800 orang tumplek blek di sana. Rata-rata cewek pakai maxi dress with floral pattern. Pyuhh.., untung saya nggak termasuk yang kebanyakan, heheh. Saya memilih pakai Hotpants jeans, Apron batik with bikini dan Sandal jepit Guess.
Ada banyak stan sepanjang jalan masuk. Mulai stan minuman sampai tattoo temporary. Harganya jangan ditanya, bisa dua sampai tiga kali lipat dari yang biasanya kita minum di blowfish.
Meski masih sore, banyak pengunjung yang udah out of control. Saya sempat ngelihat orang jackpot di atas muntahan orang lain, lalu tepar di atasnya. Yuckss!! Di chill out place juga banyak sisa-sisa jackpot dan membuat saya bersumpah buat menahan kencing sampai keesokan harinya. Kondisi WC juga mengenaskan untuk acara sebesar ini. Cuma dua biji orang yang bisa jalan.
But it’s oke. Saya masih bisa sabar nunggu DJ Gareth Emery dari UK yang sekarang nangkring di urutan 31 dunia. Selain itu, tentu saja saya juga nungguin DJ Riri! Di acara ini, emang banyak sekali DJ yang perform. Tentu saja alirannya juga macem-macem, mulai trance sampai progressive techno.
Yang nggak kalah seru di Summerfling adalah jap dancer. Yeahh!! Ada lima orang penari seksi yang langsung diimpor dari jepang untuk memanaskan suasana. Sayang, cuma dua yang pole dance (dance di tiang). Huahahah, langsung deh DJ nya nggak laku. Saya salah satu orang yang cukup “terpesona” ngelihat atraksi dancer-dancer itu, hehe.
Acara yang seharusnya diadakan seven to seven ini akhirnya harus berhenti jam lima pagi. Denger-denger, sih, DJ nya ngambek sama crowd yang ada di sana. Dan, ada juga beberapa pihak yang ingin acara itu dibubarkan lebih cepat.
By the way, kalau ternyata ada yang mengecam dan mengatakan acara tersebut melanggar asusila (Setelah baca Koran, ternyata ada kelompok perempuan yang demo di luar saat acara berlangsung) dan lain sebagainya, I don’t give a shit!! Secara, saya bayar Rp 150 ribu. FYI aja, di hari acara, harga tiket jadi Rp 250 ribu per kepala.
Overall, summerfling cukup exciting. Mestinya diadakan setahun sekali, biar feel nya tetep kejaga. Mmm… tips buat kamu yang dateng ke acara beginian :
1. Jangan bawa handbag, susah banget kalau mau ngedance
2. Bring a lot of cash
3. siap-siap sunglasses, supaya saat pulang besok paginya tetep gaul, huhahaha!
written by secangkir kopi
Posted by oursmalltalk at 23.02
Labels: social life



